Sebatas Harap

Posted in Puisi on Desember 14, 2007 by ry4npr4yudi


 

SEBATAS HARAP

                                                              Oleh Ryan Prayudi *)  

Aku , kamu dan  Cinta

Cinta, aku dan kamu

Beku ,bisu dan membara

Membara, bisu kemudian membeku

Membara, membeku kemudian membeku

Puisi adalah gumpalan kata – kata yang sangat  tinggi kekuatannya tak mampu terucap oleh lidah menembus dimensi ruang lagi waktu. Hingga, manusia tak mampu mengungkap semua imajinasi karena begitu kuatnya imajinasi yang ada pada diri manusia itu sendiri. Karena itu juga sampai saat ini hanya puisi lah menjadi media guna mengungkapkan imajinasi dalam diri. Ditangan kita ini telah ada sebuah buku, yang berisi kumpulan kumpulan puisi cinta yang berjudul SEBATAS HARAP  yang bahasanya terkesan sangat sederhana, bebas dan alamiah, dan terbuka. Manusia selalu mengalami perkembangan perubahan, begitu juga rasa yang ada dalam diri. Semakin kita berani mencinta dan terluka semakin cepat kita menemukan arti cinta yang sesungguhnya.

                                     

                               

Biarkan

Biarkan saja

Angin malam yang membuai kita

Sedang kita saling menatap

Biarkan saja, hening bersama kita

Dan…………………………..

Sepi menerpa tubuh kita ini

Biarkan saja ………………

Tanganku membelai dan membuai dirimu

Sedang kantuk tak kunjung hadir

Biarkan saja ………………

Tanganku, tanganmu terus berpacu…….

Sementara purnama iri menatap kemesraan kita

Acuhkan saja

Mereka yang asik dibuai kantuk

Sedang dua pasang mata enggan terpejam

Sementara

Sunyi, sepi, dan keheningan

Tak berarti apa – apa lagi

Sepi….

Kini tiba saatnya aku bertanya padamu

Apakah

Kemesraannya padaku malam ini

Kehangatannya padaku malam ini

Kan menghilang begitu saja

Ketika mentari terbit esok pagi

16/Oct/05

   

My Place Confront

   

Jaring laba -  laba

Penuhi langit – langit kamarku

Ranjang reyot hampir tertidur

Bantal bau

Lihatlah dipojok kanan

Gardeng blacu

Belum lagi

Seprai kumal

Radio bisu

Cermin retak

Jendela berwajah kusam

Buku – buku lusuh

Pada semua itu aku mengadu

Bercerita

Aku, cinta, nasib

Aku, dia dan cinta

Aku nyaman mengadu pada semua itu

Daripada, pada manusia sejuta bayang – bayang

  

19/Oct/05

       

Tak Pernah Ada Yang Salah

  

Tak ada yang salah bila hitam kemudian putih

Tak salah bila riuh kemudian lirih

Tak salah jika puji kemudian cerca

Jangan salahkan cinta bila kemudian luka

Tak salah bila keruh kemudian bening

Tak salah bila suka kemudian duka

Tak salah bila girang kemudia garang

Tak salah bila gentar kemudian galau

Tak pernah ada yang salah

Yang ada hanyalah

Nasib, takdir dan ketidakpercayaan

  

19/Oct/05

         

If Have Time To

  If have time to to the all time I amOnly your x’self wishing I long If have time to to the all said wordMy me fatigue say ” I love you” If my time have time to.Last word wishing “ I say to forgive I love you “. If my time have time to.[is] called loudly [by] forgiveness me I will.Me will my imperfectPermit I love you………………….   

19/Dec/05

     
    

Dalam Bias Kerinduan

  

Biarkan rasa ini kusimpan sendiri

Dalam sanubari yang tak pernah mati

Membeku hingga membatu

Membatu kemudian berkarat

Biarkan luka…………

Biarkan mati…………

Biarkan aku begini

Terluka kemudian mati

Karena aku terlalu mencitaimu………

   

20/Dec/05

                         

                

Bukan Berarti

     

Angin sepoy menghepas raga

Bukan berarti gerah kan pergi

Malam yang hening

Bukan berarti sepi kan datang

     21/Oct/06            

Mencintaimu

     

Berawal dari sebuah pandangan

Tumbuh dalam hati

Berwujud rasa

Bersatu dengan jiwa

Berupa angan

 21/Oct/06            

Eternity

    

Aku datang padamu

Untuk mengatakan sesuatu

Namun jika waktu menjemputku

Semoga waktu mencatat kisahku

Dalam sebuah buku keabadian

  21/Oct/06            

     

Penantian

   

Kursi reyot

Meja penuh tipe-x

Jendela berwajah kusam

Bunga pojok sana

Kelihatannya tak bergairah

Untuk mencium segarnya embun pagi ini

Ruang penuh debu

Pengap, sunyi sempit, sunyi lagi bau

Dengan mereka semua

Aku menanti masa depan tanpa akhir

  22/Oct/06         

     

Kenapa Kamu

   

Kenapa kamu ?

Atas semua kata yang terucap

Dan kenapa aku tadi ?

Terus menantimu

Dengan gelisah

Sementara bibir ini tak mampu berkata

Padahal segudang masa depan

Inginku bahas dengan mu

  23/Oct/06             Where You Nowadays ?     

Aku masih disini

Angin menyapaku dengan senyumnya

Sedang jiwa ini menyapamu dengan tasbih

Sayang…………………..

Matahari asik menertawakanku

Aku menyapamu dengan tasbih lagi sanubari

Sedang kamu menyapaku dengan khayal

  23/Sep/06                Semua Tentang Saat     

Saat mata tak mampu lagi menatap

Saat tangan tak mampu lagi menggapai

Saat lidah tak mampu lagi mengucap

Saat tubuh tak mampu lagi mendekap

Namun ada hati yang punya naluri

  02/Jan/07                  Sebatas Harap    

Seribu waktu

Seribu penantian

Segudang pengabdian

Sepercik kenangan

Seribu waktu

Segudang hasrat

Segudang angan

Sejuta penantian merajam

  02/Jan/07             Kasidah Cinta   

Terpisah ruang dan waktu melukai hati kita, namun itu tak berarti apa – apa untukku kita bukan ?, karena sukma tak mengenal dimensi ruang lagi waktu. Sementara wajah kita sudah bosan berkaca, lagi menerawang. Pikiranku bertukar tangkap dengan bayangmu. Dimanakah engkau gadis suciku ? apakah engkau terjaga dari derasnya hujan, besarnya badai, serta ganasnya ombak ?

Kutitip engkau pada angin lagi laut yang menyapaku malam ini, tuk menyampaikan getaran jiwa dalam sanubari.

Sedang merpati putihku enggan terbang dalam heningnya malam kelam.

Aku ingin berwujud lilin, untukmu gadis suciku, meleleh bagai penerang gelapnya serta redupnya hati yang kelam lagi mencekam. Atau seperti melati putih, yang menyelusup rongga hidung mengikat pikiran lagi rasa.

    14/Feb/07        Aku Dan Lukaku   

Lihatlah pemuda ditepi danau itu yang menengadah biru langit, kelopak matanya lembab karena air matanya yang begitu deras mengalir dari kelopak matanya sejak pagi buta.

Setelah ia lewatkan hari yang penuh ketegangan dan seribu malam ia lewatkan yang seolah tak pernah tidur. Hanya untuk merebut gadis suci yang dipujanya.

Alangkah terkejutnya dan hancur sanubarinya, tatkala ia tahu gadis yang dicintainya telah menyadarkan cintanya pada pemuda lain, sementara pikirannya telah terkontaminasi oleh ambisi guna penuhi hasrat tuk memiliki sukma gadis sucinya.

Lihatlah kesana, kini ia sedang berkaca dipermukaan air danau, angin tak bosan – bosannya menghempas raganya namun air matanya tak kunjung kering.

Ingatannya jauh memutar dimensi lalu, namun lagi – lagi kepedihan semakin menusuk merobek ingatannya. Hanya tinggal angan dan kabut, kini sukmanya hancur oleh pedihnya sendiri semakin berkabut hitam pekat hingga ia tenggelam jauh didasar perih lukanya.

 13/Mei/07     O, Malam  

Malam menampakan gelapnya, dan aku dengan kesunyianku, aku mendekap tangisku, menahan perihku, atas semua kata terucap, biarkan aku sendiri dengan sunyiku dan engkau dengan duniamu. Biarkan tawa lepas selalu penuhi hari – harimu dan tangis dengan hari – hariku. Aku bertahan dari hampanya jiwa ini, biarkan terkubur bersama kenangan membeku, kemudian membisu. Tahukan engkau tentang arti cinta sejati ?, bagiku “ cinta sejati ialah ketika kamu masih dapat tersenyum saat gadis sucimu menyandarkan cintanya pada orang lain dan engkau masih dapat berkata semoga kebahagiaan selalu berasamamu, karena bahagiamu bahagiaku juga

Oh malam, jiwaku sama gelapnya dengan jiwamu, aku ingin tenggelamkan kepalaku dalam dinginnya air danau dibukit terdingin, menyucikan pikiranku dari sejuta bayangmu yang menyumbat pembuluh darah dalam kepalaku. Sepertinya aku ingin berlari menembus dimensi masa lalu, dan tak ingin kembali pada alam bawah sadarku. Setiap malam aku bertanya pada kelamnya malam, dimana kini gadis suciku ? namun bintang hanya mencemoohkanku dengan senyum khasnya. Malam dengan kelamnya dan aku dengan kelamnya jiwaku memang pasangan sejati. Aku, malam dan jiwa yang kelam selalu menyatukan hasrat yang tak tentu.

 28/Juni/07   

Gemerlapnya lampu sama sekali tak menerangi pikiranku, memang semua hanya bayang – bayang fatamorgana, semua tinggal puing – puing kenangan. Selamat malam kepada Tuhan penguasa jagat raya, kulantunkan kidung syahdu, kepada tuhan penguasa kegelapan malam. Kepada penyair yang sedang berduka kupersembahkan gendang pelipur lara. Jangan biarkan hati berduka karena sunyi lagi sepi.

                      Aku Pun Tak Pernah Tahu  

Atas semua penantian – penantian panjangku, atas semua cinta yang kupersembahkan setiap desahan – desahan napasku. Seperti juga keheningan – keheningan yang selalu menghantui kekasihku. Atas semua kata terucap dan lapad – lapad kasidah cinta yang kudendangkan dalam kesunyian yang memikat. Siapakah engkau yang selalu ada dalam hati ini  ?, apakah bayang – bayang pemikat atau jiwa yang kan selalu hilang. Aku tak pernah tahu siapa diriku, dan………

Kita takkan pernah tahu sebelum saling meminum anggur keabadian………………. 

                  Hanya Dalam Kematian  

Aku bangun pagi itu, selalu ada bayangmu dalam bening embun, aku pun hirup udara pagi, lagi – lagi hanya harummu yang kucium, ah mungkin itu hanya ilusi , pikirku. Ku pandangi langit cerah siang itu, hanya ada bayangmu dibalik awan. Aku pun berlari dalam hujan sore itu, namun yang kutemukan bukan rintik hujan, tapi rintik – rintik bayang indahmu. Aku pun diam, kemudian melihat mentari sore itu, tetap saja bayangmu hadir dan terus hadir dalam mimpiku, lalu dimana tak kan kudapatkan bayangmu ?, tanyaku pada angin malam. Mungkin hanya dalam kematian yang sunyi, aku takkan dapat melihat bayangmu, namun mungkin juga tidak sama sekali……

                  Untukmu yang kutemui disini?  

Biarkan aku menatap lesung pipimu hingga mata ini tak sanggup lagi menatapmu, kekasihku…biarkan cinta mengalir seperti air mengalir dari bukit menuju lembah dan akhirnya sampai pada muara, biarkan cinta yang menterjemahkan rahasia hati kita dalam kediaman yang terwatas. Biarkan rasa ini kusimpan sendiri biarkan membatu, dan berakar. Biarkan perih biarkan luka, kekasihku… kita memang belum sepenuhnya saling mengenal, biarkan masa lalumu yang pahit terkubur dalam kediaman hati…..biarkan aku menggapaimu walau hanya dengan tasbihku, kekasihku …bila rindu menyelemuti hatimu….teleponlah aku dengan Fatihah….biarkan sajak laron ada dalam keheningan keheningan malam…..biarkan sampai padaku tuk menyampaikan getar asmara  yang semakin menusuk…